Recent Posts Widget

Kamis, 24 November 2011

prinsip-prinsip pembelajaran

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu tanya atau mempertanyakan sesuatu, mulia dari hal-hal yang sangat sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Oleh karena itu, mengapa manusia belajar? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan. Jawaban lengkapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat  untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahun dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui.
Kemampuan manusia untuk  belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Kelakuan dan kemampuan melakukan sesuatu pada hewan tidak diperoleh melalui proses belajar, tetapi melalui mekanisme naluri yang berkembang dengan sendirinya, dan tidak dapat meningkat karena dibatasi oleh suatu pola yang  sudah tertentu. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa  kumpulan pengetahuan nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut. Oleh karena itu, latar belakang dalam penyusunan makalah ini yakni mengetahui  apa yang dimaksud dengan prinsip prinsip pembelajaran,hakikat pembelajaran, macam macam prinsip pembelajaran, dan sebagainya.

1.2    Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang dikaji dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Pengertian Hakikat Pembelajaran
2.    Prinsip prinsip Pembelajaran



1.3    Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk :
1. Mengetahui Pengertian Hakikat Pembelajaran
2. Mengetahui Prisip prinsip Pembelajaran

1.4    Metode dan Teknik Pembahasan
Metode yang penulis gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode  deskriktif, yaitu: uraian lengkap tentang invensi yang dimintakan paten.  Penulisan deskripsi atau uraian invensi tersebut harus secara lengkap dan jelas mengungkapkan suatu invensi sehingga dapat dimengerti oleh seorang yang ahli di bidangnya. Uraian invensi harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semua kata atau kalimat dalam deskripsi harus menggunakan bahasa dan istilah yang lazim digunakan. Sedangkan tehnik yang digunakan adalah studi pustaka yaitu: Semua bahan diperoleh bersumber dari buku-buku dan atau jurnal.

1.5     Sistematika Uraian
Sistematika uraian dalam pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :
Bab satu membahas pendahuluan, meliputi :
A.    Latar Belakang Masalah
B.    Rumusan Masalah
C.    Tujuan Penulisan Makalah
D.    Metode dan Teknik Pembahasan
E.    Sistematika Uraian
Bab dua pembahasan, yang meliputi:
A.    Pengertian Hakikat Pembelajaran
B.    Prinsip prinsip Pembelajaran
Bab tiga penutup, yang meliputi
A.    Kesimpulan
B.    Saran.


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran terjemahan dari bahasa inggris “instruction” terdiri dari dua kegiatan utama yaitu, a) belajar (learning) dan b) mengajar (teaching), kemudian di satukan dalam satu aktifitas yaitu kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya populer dengan istilah pembelajaran (instruction) dengan demikian untuk memahami hakikat pembelajaran, maka terlebih dahulu harus memahami setiap bagian yaitu hakikat belajar dan mengajar.
Dari beberapa sumber yang membahas mengenai pembelajaran, terdapat beberapa kesamaan substansi tentang belajar yaitu, 1) perubahan prilaku, dan 2) hasil interaksi. Dengan dua indikator  tersebut dapat di simpulkan, bahwa seseorang yang telah belajar pasti harus di tandai adanya perubahan perilaku, jika tidak maka belum terjadi belajar. Selanjutnya bahwa perubahan yang terjadi itu, harus melalui suatu proses yaitu interaksi yang di rencanakan antara siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk terjadinya kegiatan pembelajaran, jika tidak maka perubahan tersebut bukan hasil dari belajar. Oleh karena itu perubahan perilaku pada siswa dapat di bedakan dari dua segi, pertama perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran, dan yang kedua perubahan perilaku yang bukan dari hasil pembelajaran. 
Bertitik tolak dari pengertian belajar tersebut di atas, maka mengajar pada dasarnya adalah kegiatan mengelola lingkungan pembelajaran agar berinteraksi dengan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tersebut yaitu perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, keterampilan).
Dilihat dari segi pelaku utamanya, bahwa belajar menunjuk pada prilaku totalitas dari siswa/peserta didik untuk melakukan berbagai aktifitas merespon terhadap setiap rangsangan (stimulus) pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Sedangkan mengajar menunjuk pada perilaku secara totalitas dan propesional dari guru, instruktur, tutor, dan sebutan tenaga kependidikan lainya untuk memfasilitasi terjadinya belajar pada diri siswa.
Terhadap ketiga istilah tersebut yaitu belajar, mengajar dan pembelajaran;
Prof.DR. Chaedar Alwasilah, MA memberikan batasan sebagai berikut:
a.    Belajar (learning) adalah refleksi sistem kepribadian siswa yang menunjukan perilaku yang terkait dengan tugas yang di berikan.
b.    Mengajar (teaching) adalah refleksi sistem kepribadian sang guru yang bertindak secara profesional.
c.    Pembelajaran (instruction) adalah sistem sosial tempat berlangsungnya belajar mengajar.
Dari masing masing batasan tersebut di atas, secara sederhana dapat di simpulkan bahwa antara kegiatan belajar dan mengajar keduanya menuntut aktifitas yang sama yaitu refleksi untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan fungsinya masing masing (siswa dan guru). Hubungan aktifitas secara interaktif antara siswa dengan guru dan lingkungan pembelajaran lainya untuk menuju ke arah perubahan perilaku yang di harapkan, dan itulah hakikat pembelajaran (instruction).

2.2    Prinsip prinsip Pembelajaran
Menurut Chaedar Alwasilah dengan memperhatikan bahwa hakikat pembelajaran adalah interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran (perubahan prilaku).
Seperti yang sudah di kemukakan dalam pembahasan sebelumnya, maka terdapat beberapa prinsip umum yang harus menjadi inspirasi bagi pihak pihak yang terkait dengan pembelajaran (siswa dan guru) yaitu:

a. Prinsip Umum Pembelajaran
1) Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen
2) Peserta didik memiliki potensi, gandrung dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk di kembangkan
3)  Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami linear sejalan proses kehidupa
b. Prinsip Khusus Pembelajaran

1. Prinsip Perhatian dan Motivasi
Prinsip dalam proses pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktivitas aktivitas belajar. Untuk memunculkan perhatian siswa, maka perlu kiranya di susun sebuah rancangan bagaimana menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran.
Motivasi dalam belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini di dasari oleh beberapa hal yaitu :
a.  siswa harus senantiasa di dorong untuk bekerja sama dalam belajar.
b.    siswa harus senantiasa di dorong untuk bekerja dan berusaha sesuai          dengan tuntutan belajar.
c.    motivasi merupakan hal yang penting dalam memelihara dan mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan.
Motivasi dapat di artikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian tujuan. Perilaku belajar yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah pencapaian tujuan dan hasil belajar.

2.    Prinsip Keaktifan
Kecenderungan psikologi saat ini menyatakan bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu, memiliki kemauan dan keinginan. Belajar pada hakekatnya adalah proses aktif di mana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran. Seseorang yang belajar tidak bisa di paksakan oleh orang lain. John Dewey menyatakan bahwa “belajar adalah menyangkut apa yang di kerjakan oleh siswa oleh dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus muncul dari dirinya”.
Teori kognitif menyatakan bahwa belajar menunjukan adanya jiwa yang aktif, jiwa yang tidak serkedar merespon informasi yang di terima (Gage dan Berliner, 1984:267). Berdasarkan kajian teori tersebut, maka siswa sebagai subyek belajar memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan, mencari, mengolah informasi, menganalisis, mengidentifikasi, memecahkan, menyimpulkan, dan melakukan transformasi (transfer of learning) ke dalam kehidupan yang lebih luas.

3.    Prinsip Keterlibatan Langsung/ Berpengalaman
Prinsip ini berhubungan dengan prinsip aktifitas, bahwa setiap individu harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya. Hal ini sejalan dengan pernyataan “I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand”.
Pendekatan pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara langsung akan menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Terkait dengan konsep aktifitas, setiap kegiatan belajar harus melibatkan diri (setiap individu) terjun mengalami. Oleh karena itu pantas kalau Edgar Dale melalui penggolongan pengalaman belajarnya atau yang lebih dikenal dengan kerucut pengalaman, menyatakan bahwa “belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman langsung”.
Idealnya, setiap belajar harus terjadi suatu proses intenalisasi bagi pihak yang belajar, sebab belajar bukan hanya sekedar proses menghapal sejumlah konsep, prinsip atau fakta yang siap diingat. Pendekatan pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara langsung aktif melakukan perbuatan belajar, hasilnya akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang hanya sekedar menuangkan pengetahuan-pengetahuan informasi.

4.    Prinsip Pengulangan
Teori yang dapat di jadikan sebagai petunjuk pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar, antara lain bisa di cermati dari dalil dalil belajar yang di kemukakan oleh Edward L. Thorndike (1974-1949). Kesimpulan penelitiannya telah memunculkan tiga dalil belajar yaitu “law of effect, law of exercise, and law of readiness”. Teori lain yang di anggap memiliki kaitan erat dengan prinsip pengulangan adalah yang di kemukakan oleh psikologi Daya, manusia memiliki sejumlah daya seperti mengamati, menanggapi, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir, dan sebagainya. Oleh karena itu menurut teori ini, belajar adalah melebihi daya-daya dengan pengulangan, agar setiap daya yang di miliki manusia dapat terarah sehingga menjadi lebih peka dan berkembang.

5.    Prinsip Tantangan   
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam setiap situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar, siswa menghadapi suatu tujuan yang harus dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dihadapkan kepada sejumlah hambatan/tantangan, yaitu mempelajari materi/bahan belajar. Maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan tersebut dengan mempelajari bahan belajar. Implikasi lain dari adanya bahan belajar yang dikemas dalam suatu kondisi yang menantang, seperti mengandung masalah yang perlu dipecahkan, siswa akan tertantang untuk mempelajarinya. Dengan kata lain, pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk turut menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi tersebut.
Bila dilihat dari segi penggunaan metode pembelajaran (seperti metode eksperimen, inkuiri, discoveri, pemecahan masalah, diskusi dan sejenisnya), maka metode-metode tersebut memiliki karakteristik yang menantang yang dapat menimbulkan semangat belajar tinggi. Begitu pula penguatan yang diberikan terhadap setiap hasil belajar siswa, apakah penguatan positif atau negatif akan menantang siswa, dan dapat menimbulkan motif belajar untuk memperoleh ganjaran atau menghindari dari hukuman yang tidak diharapkan.

6.    Prinsip Balikan dan Penguatan
Prinsip yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori Conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, sedangkan pada Operant Conditioning yang diperkuat adalah responnya. Kunci dari teori ini adalah hukum “Law Of Effect” dari Thorndike. Menurutnya, siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Apalagi hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun, dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Dengan kata lain, penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar dengan pengamatan melalui metode-metode pembelajaran yang menantang, seperti tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan yang sejenisnya, akan membuat sisiwa terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.

7.    Prinsip Perbedaan Individual
Perbedaan individual dalam belajar, yaitu proses belajar yang terjadi pada setiap individu berbeda satu dengan yang lain, baik secara fisik maupun psikis. Untuk itu dalam proses pembelajaran mengandung implikasi bahwa setiap siswa harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa itu sendiri. Untuk dapat memberikan bantuan belajar terhadap siswa, maka guru harus dapat memahami dengan benar ciri-ciri para siswanya, baik dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas-tugas dan bimbingan belajar terhadap siswa tersebut.

8.    Prinsip Pembelajaran Menurut Arthur dan Zelda
Dan di dalam sumber lain yang dikutip dari sebuah tulisan, Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson mengetengahkan tentang 7 (tujuh) prinsip praktik pembelajaran yang baik yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, baik bagi guru, siswa, kepala sekolah, pemerintah, maupun pihak lainnya yang terkait dengan pendidikan;

a. Encourages Contact Between Students and Faculty
Frekuensi kontak antara guru dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas merupakan faktor yang amat penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam belajar. Dengan seringnya kontak antara guru-siswa ini, guru dapat lebih meningkatkan kepedulian terhadap siswanya. Guru dapat membantu siswa ketika melewati masa-masa sulitnya. Begitu juga, guru dapat berusaha memelihara semangat belajar, meningkatkan komitmen intelektual siswa, mendorong mereka untuk berpikir tentang nilai-nilai mereka sendiri serta membantu menyusun rencana masa depannya. Prinsip ini sejalan dengan prinsip perhatian dan motivasi.

b. Develops Reciprocity and Cooperation Among Students
Upaya meningkatkan belajar siswa lebih baik dilakukan secara tim dibandingkan melalui perpacuan individual (solo race). Belajar yang baik tak ubahnya seperti bekerja yang baik, yakni kolaboratif dan sosial, bukan kompetitif dan terisolasi. Melalui bekerja dengan orang lain, siswa dapat meningkatkan keterlibatannya dalam belajar. Saling berbagi ide dan mereaksi atas tanggapan orang lain dapat semakin mempertajam pemikiran dan memperdalam pemahamannya tentang sesuatu.

c. Encourages Active Learning
Belajar bukanlah seperti sedang menonton olahraga atau pertunjukkan film. Siswa tidak hanya sekedar duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, menghafal paket materi yang telah dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru. Tetapi mereka harus berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka harus menjadikan apa yang mereka pelajari sebagai bagian dari dirinya sendiri. Prinsip ini sejalan dengan prinsip keaktifan.

d. Gives Prompt Feedback
Siswa membutuhkan umpan balik yang tepat dan memadai atas kinerjanya sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajarinya. Ketika hendak memulai belajar, siswa membutuhkan bantuan untuk menilai pengetahuan dan kompetensi yang ada. Di kelas, siswa perlu sering diberi kesempatan tampil dan menerima saran agar terjadi perbaikan. Dan pada bagian akhir, siswa perlu diberikan kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari, apa yang masih perlu diketahui, dan bagaimana menilai dirinya sendiri. Prinsip ini hampir sejalan dengan prinsip balikan dan penguatan.

e. Emphasizes Time on Task
Waktu + energi = belajar. Memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan sesuatu yang sangat penting bagi siswa. Siswa membutuhkan bantuan dalam mengelola waktu efektif belajarnya. Mengalokasikan jumlah waktu yang realistis artinya sama dengan belajar yang efektif bagi siswa dan pengajaran yang efektif bagi guru. Sekolah seyogyanya dapat mendefinisikan ekspektasi waktu bagi para siswa, guru, kepala sekolah, dan staf lainnya untuk membangun kinerja yang tinggi bagi semuanya

f. Communicates High Expectations
Berharap lebih dan Anda akan mendapatkan lebih. Harapan yang tinggi merupakan hal penting bagi semua orang. Mengharapkan para siswa berkinerja atau berprestasi baik pada gilirannya akan mendorong guru maupun sekolah bekerja keras dan berusaha ekstra untuk dapat memenuhinya.

g. Respects Diverse Talents and Ways of Learning
Ada banyak jalan untuk belajar. Para siswa datang dengan membawa bakat dan gaya belajarnya masing-masing Ada yang kuat dalam matematika, tetapi lemah dalam bahasa, ada yang mahir dalam praktik tetapi lemah dalam teori, dan sebagainya. Dalam hal ini, siswa perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan bakatnya dan belajar dengan cara kerja mereka masing-masing. Kemudian mereka didorong untuk belajar dengan cara-cara baru, yang mungkin ini bukanlah hal mudah bagi guru untuk melakukannya.
Pada bagian lain, Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson mengatakan bahwa guru dan siswa memegang peran dan tanggung jawab penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi mereka tetap membutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membentuk sebuah lingkungan belajar yang kondusif bagi praktik pembelajaran yang baik. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan tersebut meliputi: (a) adanya rasa tujuan bersama yang kuat; (b) dukungan kongkrit dari kepala sekolah dan para administrator pendidikan untuk mencapai tujuan ; (c) dana yang memadai sesuai dengan tujuan; (d) kebijakan dan prosedur yang konsisten dengan tujuan; dan (e) evaluasi yang berkesinambungan tentang sejauhmana ketercapaian tujuan. Prinsip ini sejalan dengan prinsip perbedaan individual.






















BAB 3
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Bahwa antara kegiatan belajar dan mengajar keduanya menuntut aktifitas yang sama yaitu refleksi untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan fungsinya masing masing (siswa dan guru). Hubungan aktifitas secara interaktif antara siswa dengan guru dan lingkungan pembelajaran lainya untuk menuju ke arah perubahan perilaku yang di harapkan, dan itulah hakikat pembelajaran (instruction).
Bahwa seorang pendidik yang profesional haruslah memiliki prinsip pembelajaran, agar output yang dihasilkan sesuai yang di harapkan. Seorang pendidik yang tak berprinsip dalam pembelajaran, tidak akan bisa mendidik dengan profesional, dan hasil didikannya pun akan kabur dan tidak akan jelas, walaupun tujuan yang dibuat sudah sedemikian baik.

3.2    Saran
Tiada yang sempurna di dunia ini dan adalah suatu kewajaran, kesalahan berada di genggaman manusia, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Penyusun sangat berbahagia para pembaca yang budiman memberikan saran dan kritik yang membangun kepada penyusun, demi perkembangan ilmu pendidikan selanjutnya. Dan penyusun sangat terbuka dan sangat mengharapkan perbaikan dari makalah ini jika ada suatu kesalahan dan penambahan meterinya jika ada suatu kekurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Update PES 2012 Patch 4.1 dan 4.1.1

PESEdit.com 2012 Patch 4.1 4.1.1 | PES Hybrid

PESEdit.com 2012 Patch 4.1 4.1.1 | PES Hybrid

Postingan Populer